Berdua. Tapi bukan setengah-setengah.

Cerita dua temen gue, A dan B. Ribut soal listrik tiap bulan, sampai mereka berhenti pura-pura.

BRZK · Juli 2026 · 5 menit baca

A dan B pacaran empat tahun, nikah dua tahun. Yang paling sering mereka ributin bukan mertua, bukan anak. Tagihan listrik.

Bukan karena mahal. Karena nggak jelas siapa bayar apa. Tiap bulan jadi tebak-tebakan, terus jadi nyindir, terus jadi diem-dieman.

Bagi rata itu bukan adil

Mereka dulu mikir "berdua ya bagi dua". Padahal gaji A dua kali B. Bagi rata malah bikin B kecekik, dan A ngerasa dia doang yang nanggung.

Transparan itu bukan ngawasin. Itu berhenti nebak-nebak.

Yang berubah pas mereka mulai catat bareng bukan angkanya. Tapi mereka berhenti pura-pura nggak ada masalah. Semua kelihatan, jadi nggak ada yang dipendem.

Bareng, tapi tetap punya batas

Berdua bukan berarti semua digabung. A dan B punya dompet bareng buat yang emang bareng: listrik, cicilan, mimpi. Sisanya tetap masing-masing. Nggak ada yang harus lapor beli kopi.

Berdua bukan setengah-setengah. Itu dua orang utuh yang sepakat soal mana yang bareng.

Ditulis BRZK · Juli 2026

BRZK terus nulis.

Berlangganan, biar tau pas esai berikutnya terbit. Nggak spam, cuma tulisan.

email kamu… Langganan