A dan B pacaran empat tahun, nikah dua tahun. Yang paling sering mereka ributin bukan mertua, bukan anak. Tagihan listrik.
Bukan karena mahal. Karena nggak jelas siapa bayar apa. Tiap bulan jadi tebak-tebakan, terus jadi nyindir, terus jadi diem-dieman.
Bagi rata itu bukan adil
Mereka dulu mikir "berdua ya bagi dua". Padahal gaji A dua kali B. Bagi rata malah bikin B kecekik, dan A ngerasa dia doang yang nanggung.
Transparan itu bukan ngawasin. Itu berhenti nebak-nebak.
Yang berubah pas mereka mulai catat bareng bukan angkanya. Tapi mereka berhenti pura-pura nggak ada masalah. Semua kelihatan, jadi nggak ada yang dipendem.
Bareng, tapi tetap punya batas
Berdua bukan berarti semua digabung. A dan B punya dompet bareng buat yang emang bareng: listrik, cicilan, mimpi. Sisanya tetap masing-masing. Nggak ada yang harus lapor beli kopi.
Berdua bukan setengah-setengah. Itu dua orang utuh yang sepakat soal mana yang bareng.
Belum ada akunnya.
Pang belum punya tim marketing, jadi belum ada yang ngurus sosial media. Kita lagi cari Marketing Director yang mau bangun ini dari nol bareng kita.
Tertarik? Kirim email →