Sepupu gue baru pindah rumah. Fotonya masuk grup keluarga jam sepuluh malam, tujuh belas foto, lengkap sama sudut dapur yang ada kompor tanam.
Gue nggak iri. Beneran. Rumah gue cukup, dan gue nggak lagi nyari rumah.
Tapi tiga hari kemudian gue kepikiran ganti sofa.
Nggak ada hubungannya. Nggak ada yang nyuruh. Nggak ada iklan yang ngejar gue. Cuma ada tujuh belas foto dan sesuatu yang bergeser sedikit di kepala gue tanpa permisi.
Papan skor keluarga
Kita sering ngira musuh dompet itu diskon, mall, atau checkout tengah malam. Padahal yang paling ngefek biasanya lebih deket dan lebih halus: perbandingan dalam keluarga. Karena keluarga itu ukuran yang paling terasa nyata. Selebriti nggak ngaruh, mereka hidup di dunia lain. Tapi sepupu yang dulu bareng lo main gundu, terus sekarang punya kompor tanam, itu terasa kayak papan skor.
Dan papan skor itu paling kejam pas dia nyentuh anak.
Ulang tahun keponakan yang pakai badut dan photobooth. Anak saudara yang masuk sekolah yang lebih mahal. Foto liburan yang muncul tiap libur panjang. Nggak ada yang niat pamer, dan itu justru yang bikin susah dilawan. Nggak ada yang bisa lo salahin. Yang ada cuma rasa pelan-pelan bahwa anak lo lagi ketinggalan sesuatu, padahal anak lo sendiri nggak ngerasa gitu sampai lo yang bikin dia ngerasa.
Belanja karena takut
Ini yang gue sebut belanja karena takut, bukan belanja karena mau.
Bedanya gampang dicek, dan cuma butuh satu pertanyaan: kalau nggak ada yang tau gue beli ini, gue masih pengen nggak?
Kalau jawabannya masih iya, beli aja. Nggak usah merasa bersalah. Duit emang buat dipakai, dan hidup yang semua pengeluarannya harus dipertanggungjawabkan itu hidup yang capek.
Yang lo beli bukan barangnya. Yang lo beli adalah posisi.
Tapi kalau jawabannya jadi ragu, biasanya yang lo beli bukan barangnya. Yang lo beli adalah posisi. Dan posisi itu barang paling mahal yang pernah ada, karena dia nggak pernah selesai dibeli. Selalu ada foto berikutnya.
Nggak ada izin buat bilang enggak
Ada satu hal yang bikin ini makin berat di keluarga Indonesia: kita jarang punya izin buat bilang "kita lagi nggak sekarang."
Di grup keluarga, kalimat itu berasa kayak pengakuan kalah. Jadi orang milih diem, terus maksain, terus pulang bawa cicilan yang nggak ada di rencana siapa-siapa. Kondangan tetap diamplopin penuh walaupun lagi seret. Arisan tetap ikut walaupun angkanya udah nggak masuk. Bukan karena bego. Karena harga sosialnya berasa lebih mahal daripada harga duitnya.
Gue nggak punya solusi yang rapi buat ini. Nggak ada trik yang bikin lo kebal sama sepupu lo.
Yang gue punya cuma dua hal.
Satu, punya orang. Satu orang aja, biasanya pasangan, yang tau kondisi asli duit lo dan lo bisa jujur ke dia tanpa dihakimi. Perbandingan itu paling kuat pas lo hadapin sendirian di kepala lo. Begitu diucapin ke orang lain, dia jadi lebih kecil dari yang lo kira. Kadang cukup dijawab "iya rumahnya bagus, tapi kita lagi nabung buat yang lain," dan kepikirannya selesai.
Dua, tau angka lo sendiri. Ini kedengeran nggak nyambung, tapi ini yang paling ngefek. Orang yang tau persis kondisi duitnya jauh lebih susah digoyang, karena dia punya pembanding lain selain foto orang. Perbandingan itu numbuh paling subur di ruang kosong. Kalau lo nggak punya angka sendiri, satu-satunya ukuran yang tersedia ya hidup orang lain.
Sofa gue masih yang lama. Bantalnya udah agak turun di sisi kanan, tempat gue biasa duduk.
Dan sejauh ini, nggak ada satu orang pun yang dateng ke rumah gue terus ngomongin sofanya.
Belum ada akunnya.
Pang belum punya tim marketing, jadi belum ada yang ngurus sosial media. Kita lagi cari Marketing Director yang mau bangun ini dari nol bareng kita.
Tertarik? Kirim email →