Nanti gue transfer.

Nagih 50 ribu bikin lo kerasa kecil. Padahal yang mahal bukan duitnya, tapi rasa canggung yang numpuk pelan-pelan.

BRZK · Agustus 2026 · 3 menit baca

Ada satu chat yang nggak pernah lo kirim. Draft "eh btw yang kemarin..." yang lo ketik, lo baca ulang, terus lo hapus. Tiga kali. Padahal cuma 85 ribu.

Akhirnya nggak jadi lo kirim. Bukan karena lo lupa. Karena tiap kali mau kirim, ada suara kecil yang nanya: masa gara-gara segini lo jadi keliatan itung-itungan?

Bukan soal duit, soal gengsi

Nagih itu berat bukan karena angkanya. Berat karena lo takut dianggap perhitungan sama orang yang lo anggap temen. Dan gengsi yang diem-diem itu bikin lo rugi dua kali. Duitnya ilang, hubungannya juga jadi aneh.

Karena begitu lo mutusin buat nggak nagih, lo nggak beneran ikhlas. Lo cuma nyimpen. Dan tiap ketemu orangnya lagi, ada bagian kecil di kepala lo yang inget. Lama-lama, males ngajak dia jalan lagi jadi lebih gampang daripada nagih 85 ribu.

Yang mahal bukan duitnya. Yang mahal itu canggung yang numpuk pelan-pelan.

Lo juga pernah jadi yang lupa

Sisi sebaliknya juga bener. Lo juga pernah jadi orang yang lupa bayar. Bukan karena lo jahat, cuma karena memori manusia emang gitu adanya. Yang bayar duluan biasanya inget. Yang ditraktir biasanya lupa. Itu bukan soal karakter siapa yang lebih baik. Itu default kepala manusia.

Kejelasan itu sayang, bukan pelit

Jalan keluarnya bukan aplikasi split bill yang bikin makan malam berasa lagi diaudit. Jalan keluarnya lebih tumpul dari itu.

Catat buat diri lo sendiri, biar nggak numpuk di kepala doang. Bilang di depan, pas itu juga, bukan nyimpen terus meledak belakangan. Dan kalau ada yang emang mau lo relain, relain beneran, jangan setengah-setengah sambil masih ngedumel dalem hati.

Karena kejelasan soal duit itu bentuk sayang. Bukan bentuk pelit.

Ditulis BRZK · Agustus 2026

BRZK terus nulis.

Berlangganan, biar tau pas esai berikutnya terbit. Nggak spam, cuma tulisan.

email kamu… Langganan