Gue punya dua temen, sebut aja A dan B, yang berantem tiap akhir bulan soal listrik.
Konteksnya: A gajinya Rp 12 juta. B gajinya Rp 4 juta. Mereka tinggal bareng, pasangan, udah dua tahun.
Kontrak rumah, listrik, internet, makan di luar. Semua dibagi 50/50. Itu yang mereka sepakatin pas pertama tinggal bareng, dan itu yang mereka pertahankan, sampai kemarin.
Yang gue liat dari pinggir: A nggak ngerti kenapa B selalu setres di akhir bulan. B nggak bisa jelasin tanpa kedengeran ngeluh.
Lo gajian dua minggu lalu. Gue gajian dua minggu lalu juga. Kenapa lo selalu bilang lo nggak bisa ke kafe baru itu?
Karena dari Rp 4 juta yang masuk ke B, setelah listrik (50/50), internet (50/50), makan di luar minggu pertama (50/50), kontrak (50/50), yang tersisa di kantong B kurang dari Rp 500rb buat dua minggu terakhir.
Dari Rp 12 juta yang masuk ke A, setelah semua yang sama, A masih punya Rp 8 juta.
Dua orang. Sama-sama bayar setengah. Tapi yang satu lega, yang satu hampir nggak bisa napas.
Mereka berantem dua tahun soal ini. Tiga kali B coba ngomong, tiga kali percakapannya berhenti karena A bilang tapi kita kan udah sepakat dari awal.
A nggak salah. Mereka emang udah sepakat. Tapi kesepakatan itu dibuat pas gaji mereka beda 2 juta, tahun pertama. Sekarang udah beda 8 juta. Kesepakatannya nggak update sama kondisi mereka.
Yang akhirnya bikin mereka ngobrol bener: bukan B yang ngajakin. B udah nyerah. A yang ngajakin, pas dia sadar B udah dua minggu nggak makan di luar sama dia. A nggak nyangka B nggak punya cash buat makan di restoran yang dulunya tempat date mingguan mereka.
Bukan karena B tiba-tiba lebih miskin. Tapi karena dua tahun split 50/50 udah nimbun rasa kewalahan yang B sembunyiin.
Solusi mereka, yang gue rasa bagus banget: hitung kontribusi berdasarkan rasio gaji.
A bayar 75% buat pengeluaran bareng (kontrak, listrik, internet, makan inti). B bayar 25%. Itu bukan A "ngerajain" B. Itu A ngakuin sesuatu yang sebenernya udah jelas dari awal: rasio penghasilan mereka emang 75/25, dan rasio kontribusi mereka harusnya ngikutin.
Pengeluaran pribadi (skincare, kopi sore, hobi) tetep dari kantong masing-masing. Tanpa persetujuan, tanpa lapor. Itu zona pribadi.
Yang berubah satu bulan setelah perubahan: B mulai bisa nabung. Dia ngajakin A makan di restoran baru. Bukan karena dia tiba-tiba gajian lebih besar. Karena dari Rp 4 juta, sekarang yang nempel ke pengeluaran wajib cuma Rp 1 juta. Sisanya Rp 3 juta jadi miliknya beneran.
A nggak rugi. A sebelumnya selalu punya sisa setelah split 50/50. Yang berubah cuma proporsi. A nanggung beban yang emang lebih besar, tapi yang sebenernya udah ada di kemampuan dia dari awal.
Yang berantem soal duit di hubungan biasanya bukan pasangan yang gaji-nya beda. Yang berantem itu pasangan yang pura-pura gajinya sama.
"Adil" dalam hubungan bukan "sama rata." Adil itu kontekstual. Lo ngangkat tas grocery yang berat karena lo lebih tinggi, bukan karena lo cinta lebih banyak. Lo bayar lebih ke kontrak karena gaji lo lebih besar, bukan karena lo lebih berkuasa.
Yang bikin sulit di Indonesia bukan logika-nya. Itu obvious. Yang bikin sulit: kita nggak punya kebiasaan ngomong angka di depan pasangan. Lo gajian berapa?
masih dianggap kasar. Padahal pertanyaan itu yang harusnya keluar lebih dulu, sebelum sumpah 50/50 dibuat.
Gue bikin Pang sebagian karena ngeliat A dan B. Salah satu alasan yang penting, bukan satu-satunya. Di Pang, mode "Berdua" defaultnya proporsional, bukan 50/50. Lo masih bisa pilih 50/50 kalau emang pas. Tapi titik berangkatnya ngakuin satu hal yang biasanya disembunyiin.
Itu doang.
Sisanya, kalau lo lagi pasangan dan baca ini sambil mikir "kita nggak kayak A dan B," coba duduk dua puluh menit malem ini. Buka aplikasi mobile banking masing-masing. Liat berapa yang masuk, berapa yang keluar tiap bulan. Liat siapa yang lega, siapa yang nggak.
Kalau yang nggak lega itu pasangan lo, mungkin udah waktunya buka percakapan yang sama yang A baru berani buka di tahun ketiga.
Lebih cepat lebih baik. A bilang gitu.