Pas lo punya pasangan, ada satu hal yang nggak lo sadari sampai dia pergi: ada orang yang nanya duit kita lagi gimana?
tiap dua-tiga minggu. Bahkan kalau dia nggak punya jawabannya, dia nanya. Dan pertanyaan sederhana itu maksa lo bukain aplikasi bank.
Pas lo solo, itu nggak ada.
Gue solo sejak umur 24. Dan dalam 18 bulan pertama, gue cek saldo gue tiga kali. Bukan tiga kali sehari. Tiga kali dalam 18 bulan.
Gue terlalu peduli. Dan terlalu takut.
Yang gue tunda selama 18 bulan itu bukan teknis. Teknisnya gampang. Buka app bank, scroll, total. Tiga menit.
Yang gue tunda itu rasa pas gue ngeliat angkanya.
Karena gue tau angkanya nggak sebagus yang gue mau. Karena gue tau gue ngeluarin terlalu banyak buat makan di luar bulan kemarin. Karena gue tau ada lima ratus ribu yang gue nggak bisa jelasin perginya kemana.
Dan otak gue, kalau dikasih pilihan antara "tau yang nggak enak" sama "nggak tau sama sekali," selalu milih yang kedua.
Yang nikah atau pacaran punya satu sistem yang nggak punya nama: tekanan sosial buat berhadapan. Lo nggak boleh berbohong terus karena ada orang lain yang juga rugi kalau lo nutupin.
Solo nggak punya itu. Dan tanpa itu, kebanyakan dari kita milih jalan yang lebih gampang: tidur.
Pas gue akhirnya bukain semua aplikasi bank gue di bulan ke-19, gue siap buat marah ke diri sendiri. Gue udah siap ngerasa bodoh. Gue udah siap nemu bukti bahwa gue nggak punya kemampuan ngatur duit kayak orang dewasa.
Yang gue temuin: angkanya nggak seburuk yang gue bayangin. Beneran. Memang nggak sebagus yang seharusnya. Tapi nggak deket dengan "krisis" yang otak gue jualin selama 18 bulan.
Lebih dari setahun, ketakutan gue lebih jelek dari kenyataan.
Itu yang gue pelajarin: yang ngerusak solo finance bukan ketidakmampuan. Itu adalah cerita yang lo bikin sendiri, tanpa data.
Otak lo, tanpa angka beneran, akan ngarang skenario terburuk. Dan skenario terburuk itu yang bikin lo nggak mau cek lagi. Loop.
Gue bikin Pang Solo mode dengan pengalaman 18 bulan itu di kepala. Bukan buat "produktivitas." Bukan buat ngasih lo gamifikasi atau streak.
Buat ngecilin jarak antara lo dan angka beneran.
Pas lo buka Pang Solo, lo nggak dikasih dashboard yang bikin overwhelm. Lo nggak dikasih skor. Lo nggak dikasih notifikasi yang shaming.
Lo dikasih satu hal: angka, dalam bahasa biasa, tanpa adjective.
Lo abis Rp 2,8 juta minggu ini.
Itu doang. Bukan "lo overspending." Bukan "minggu lalu lo lebih hemat." Bukan emoji api.
Karena yang lo butuhin pertama kali itu bukan motivasi. Itu kepastian.
Satu hal yang gue baru ngerti baru-baru ini: solo finance itu bukan "couple finance dikurangi pasangan." Solo finance itu bisnis-nya beda.
Pasangan jaga lo dari overspending besar, kalau dia tau. Solo nggak ada itu. Lo musti jaga diri sendiri.
Pasangan kasih lo orang buat bicarain duit. Solo, lo bisa diem selama 18 bulan tanpa ada yang nanya. Lo musti belajar bicara sama diri sendiri.
Pasangan kasih lo accountability eksternal. Solo butuh sistem yang gantiin itu. Alasan yang lebih kecil buat nggak buka aplikasi, bukan lebih banyak feature.
Buat lo yang solo dan baca ini sambil mikir gue juga udah lama nggak cek
, buka. Sekarang. Nggak ada cara lain.
Mungkin angkanya nggak sebagus yang lo mau. Mungkin lo bakal kaget dengan satu kategori (gue dulu kaget sama berapa yang gue keluarin di Tokopedia Food).
Tapi gue jamin satu hal: dia nggak seburuk yang otak lo udah ngarangin selama berbulan-bulan.
Dan begitu lo tau angkanya, lo udah duluan dari versi diri lo bulan kemarin.