Nggak ada rumah yang pengeluarannya rata.
Kita semua ngerti ini secara naluri, tapi anehnya kita tetap ngukur diri pakai rata-rata. Kita nyusun anggaran seolah tiap bulan itu kembar. Terus pas Juli datang bawa daftar belanja sekolah, atau Lebaran datang bawa amplop dan tiket dan baju, kita ngerasa gagal. Padahal kita nggak gagal. Kita cuma lagi ada di musim yang beda.
Bulan panen, bulan kering
Rumah itu punya musim, sama kayak sawah.
Ada bulan panen. Biasanya bulan THR, atau bulan bonus, atau bulan proyek cair kalau lo kerja lepas. Ada bulan kering. Biasanya bulan setelah Lebaran, atau Juli pas tahun ajaran baru, atau Januari pas semua tagihan tahunan barengan nagih.
Yang bikin rumah tegang bukan bulan keringnya. Yang bikin tegang adalah bulan kering yang datang tanpa diduga, padahal sebenarnya bisa ditebak dari tahun lalu.
Coba deh iseng. Buka pengeluaran lo dua belas bulan ke belakang, terus lihat mana yang paling gede. Hampir pasti bentuknya bukan garis lurus. Hampir pasti ada dua atau tiga gunung yang muncul di bulan yang sama tiap tahun. Dan hampir pasti gunung-gunung itu yang tiap tahun bikin lo nyari pinjaman atau bongkar tabungan sambil ngomel.
Lo bukan orang yang boros. Lo cuma punya Juli.
Cicil gunungnya dari sekarang
Begitu lo lihat polanya, sesuatu yang lucu terjadi. Rasa bersalahnya berkurang. Dari situ solusinya jadi lebih tenang. Bukan "harus lebih disiplin," yang biasanya cuma bahasa halus buat "harusnya gue lebih baik jadi orang." Tapi sesuatu yang jauh lebih membosankan: cicil gunungnya dari sekarang.
Kalau tiap Juli keluar tiga juta buat sekolah, itu artinya bukan beban Juli. Itu beban dua ratus lima puluh ribu per bulan yang selama ini lo tunda semua ke satu bulan. Sama duitnya. Beda banget rasanya.
Ini juga alasan kenapa bulan panen itu justru bagian paling rawan. THR masuk, terasa banyak, dan otak kita langsung ngitungnya sebagai bonus. Padahal buat kebanyakan rumah di Indonesia, THR itu bukan bonus. Itu subsidi buat bulan-bulan kering yang bakal datang. Yang bikin banyak orang susah di Agustus bukan Agustusnya. Tapi April.
Semua orang tau musimnya
Ada satu lagi yang lebih halus soal musim, dan ini soal orang, bukan angka.
Di rumah, biasanya ada satu orang yang lebih dulu ngerasa musim keringnya datang. Dia mulai lebih sering bilang "nanti aja," mulai mikir dua kali buat hal yang minggu lalu biasa aja. Dan orang satunya sering nggak nyadar, karena buat dia belum ada yang berubah. Dari situ mulai muncul jarak kecil yang nggak keliatan tapi kerasa.
Kalau seisi rumah tau musimnya lagi apa, jarak itu nggak muncul. Nggak perlu ada yang nebak. "Bulan ini emang lagi berat, September udah lega lagi" itu kalimat yang murah banget, tapi ngefek banget, karena dia ngubah kesusahan jadi sesuatu yang ada ujungnya.
Dan itu bedanya rumah yang tenang sama rumah yang tegang. Bukan penghasilan. Tapi apakah semua orang di dalamnya tau lagi ada di musim yang mana.
Belum ada akunnya.
Pang belum punya tim marketing, jadi belum ada yang ngurus sosial media. Kita lagi cari Marketing Director yang mau bangun ini dari nol bareng kita.
Tertarik? Kirim email →