Tiap tanggal gajian, ada tiga notifikasi yang muncul di HP gue dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Satu masuk. Dua keluar.
Yang pertama keluar ke rumah orang tua. Yang kedua keluar ke rekening rumah gue sendiri, buat istri dan anak. Sisanya baru punya gue. Dan sisanya itu selalu terasa lebih kecil dari yang gue bayangin waktu ngobrolin gaji pas interview dulu.
Bukan kecelakaan, ini desain
Ini yang orang sebut generasi sandwich, walaupun gue nggak pernah suka istilahnya. Kedengerannya kayak lo lagi kejepit dan nunggu diselametin. Padahal buat banyak dari kita, ini bukan kecelakaan. Ini emang desainnya. Orang tua gue nggak punya dana pensiun karena mereka investasinya ke gue. Itu bukan kelalaian mereka, itu keputusan mereka. Dan gue lagi jalanin bagian akhir dari keputusan itu.
Yang bikin berat sering bukan jumlahnya. Yang bikin berat adalah rasa bersalah yang nempel di dua arah sekaligus.
Kalau lo kurangin kiriman ke orang tua, lo ngerasa jadi anak durhaka. Kalau lo naikin, lo ngerasa nyuri dari masa depan anak lo sendiri. Dan yang paling capek, dua-duanya jarang diomongin. Semuanya dijalanin diem-diem, dihitung diem-diem, dan disesalin diem-diem.
Angka tetap, bukan angka sisa
Beberapa hal yang menurut gue ngebantu, walaupun nggak ada yang bikin ini jadi enteng.
Pertama, kasih angka yang tetap, bukan angka yang sisa. Bedanya besar. Kalau lo ngirim dari sisa, lo bakal ngirim beda-beda tiap bulan, dan tiap bulan lo ngitung ulang sambil nimbang rasa bersalah. Kalau lo tentuin di awal, misalnya sekian per bulan, urusannya selesai di awal bulan. Lo nggak berdebat sama diri sendiri dua belas kali setahun. Dan orang tua lo juga bisa ngerencanain, karena mereka tau berapa yang bakal masuk.
Kedua, angkanya boleh nggak besar. Ini bagian yang paling susah diterima. Kita sering mikir kalau nggak bisa ngasih banyak, mending nggak usah ngomong. Padahal yang paling bikin orang tua tenang biasanya bukan besarnya, tapi tetapnya. Lima ratus ribu yang datang tiap tanggal 1 itu lebih berguna daripada dua juta yang datangnya nggak jelas kapan, karena yang tetap bisa dipakai buat mikir ke depan.
Mutus rantai
Ketiga, dan ini yang paling jarang dilakuin: omongin sama pasangan lo, sebagai keputusan bersama, bukan sebagai laporan.
Yang bikin sakit bukan uangnya, tapi posisinya.
Banyak berantem soal kiriman ke orang tua bukan karena pasangan lo keberatan. Tapi karena dia baru tau pas duitnya udah keluar. Dia jadi ngerasa bukan bagian dari keputusan di rumahnya sendiri. Ubah urutannya, dan masalahnya sering ilang sendiri walaupun angkanya sama persis.
Keempat, dan ini yang paling nggak enak buat ditulis: lo juga harus nabung buat diri lo sendiri. Bukan karena lo egois. Justru sebaliknya.
Kalau lo nggak nyiapin apa-apa, lo lagi ngoper beban yang sama persis ke anak lo. Rantainya jalan terus. Anak lo bakal nulis esai yang sama tiga puluh tahun lagi, cuma ganti nama. Satu-satunya cara mutus rantai itu adalah dengan jadi generasi yang agak nggak enak, yang nahan sedikit buat masa depannya sendiri, walaupun rasanya kayak pelit.
Gue masih ngirim tiap bulan. Kayaknya bakal terus, selama gue masih bisa.
Tapi gue udah berhenti nganggep itu kebocoran. Itu bukan duit yang bocor dari anggaran gue. Itu emang salah satu alasan gue kerja. Bedanya sekarang dia punya nama, punya tempat, dan semua orang di rumah gue tau dia ada.
Yang berubah bukan jumlahnya. Yang berubah cuma: gue berhenti kaget tiap tanggal 25.
Belum ada akunnya.
Pang belum punya tim marketing, jadi belum ada yang ngurus sosial media. Kita lagi cari Marketing Director yang mau bangun ini dari nol bareng kita.
Tertarik? Kirim email →