Bapak temen gue meninggal tahun lalu. Mendadak, nggak ada sakit panjang, nggak ada persiapan.
Dua minggu setelahnya, temen gue nelpon, dan yang dia tanyain bukan soal sedih. Dia nanya gimana caranya tau bapaknya punya rekening di mana aja.
Ternyata itu pertanyaan yang jauh lebih susah dari yang kita kira. Ada tabungan yang keluarganya nggak pernah denger. Ada cicilan yang baru ketauan pas ada yang nelpon nagih. Ada asuransi yang preminya kebayar bertahun-tahun, dan hampir nggak ada yang tau polisnya ada di mana. Bukan karena bapaknya nyembunyiin. Cuma karena dia yang selalu ngurus, dan nggak pernah kepikiran bakal ada hari di mana dia nggak bisa ngurus.
Ini bagian ngatur duit keluarga yang paling jarang diomongin, karena topiknya bukan duit. Topiknya kematian, dan kita semua nggak enak ngomongin itu.
Minggu pertama, bukan bulan ketiga
Tapi coba jawab jujur. Kalau malam ini lo kenapa-kenapa, orang di rumah lo bakal bisa jalan nggak?
Bukan soal warisan. Warisan itu urusan bulan ketiga. Yang gue maksud minggu pertama. Mereka tau nggak duit buat bulan ini adanya di mana. Tau nggak tagihan apa yang jatuh tempo minggu depan. Tau nggak lo punya utang ke siapa, dan siapa yang punya utang ke lo. Tau nggak HP lo PIN-nya berapa.
Makin rapi lo ngurus semuanya sendirian, makin berantakan pas lo nggak ada.
Buat kebanyakan rumah, jawabannya nggak. Dan yang bikin ini kejam, orang yang paling rajin ngurus duit keluarga biasanya justru yang paling nggak tergantikan.
Satu halaman
Ini nggak butuh dokumen hukum. Nggak butuh notaris, nggak butuh formulir. Yang dibutuhin cuma satu sore yang agak canggung.
Tulis di satu tempat, yang orang paling deket sama lo bisa akses: rekening ada di bank apa aja. Utang ke siapa aja dan sisanya kira-kira berapa. Asuransi kalau punya, nomornya berapa. Tagihan rutin apa aja yang otomatis kepotong. Dan satu nama yang bisa ditelepon kalau mereka bingung.
Udah. Itu doang. Satu halaman.
Yang bikin ini berat bukan bikinnya. Yang berat adalah ngobrolinnya, karena di banyak keluarga Indonesia ngomong kayak gini berasa kayak ngundang sial. Padahal yang lo lakuin justru kebalikannya. Lo lagi ngasih hadiah buat orang yang lo sayang, buat hari yang mudah-mudahan masih lama banget.
Tulis utangnya dulu
Ada satu bagian yang lebih pahit lagi, dan ini yang bikin temen gue paling capek: yang paling susah bukan nyari asetnya. Yang paling susah adalah nemuin utangnya. Aset itu diem, dia nunggu. Utang itu yang datang sendiri, biasanya lewat telepon dari nomor asing, ke orang yang lagi berkabung.
Jadi kalau lo cuma mau nulis satu hal malam ini, tulis utangnya dulu.
Dan buat yang lagi baca ini sambil mikir "duit gue nggak banyak, nggak ada yang perlu dicatat," justru ini buat lo. Rumah yang duitnya banyak punya orang yang dibayar buat ngurusin ini. Rumah yang duitnya pas-pasan cuma punya satu sama lain. Selisih dua bulan buat nemuin rekening yang nyangkut itu nggak berarti apa-apa buat yang pertama, tapi bisa jadi selisih antara bertahan dan nggak buat yang kedua.
Duit itu salah satu cara kita ngurus orang. Itu aja intinya. Bayar sekolah, isi kulkas, kirim ke orang tua, semuanya bentuk ngurus.
Dan ngurus yang paling terakhir, yang paling sepi, adalah mastiin urusan lo nggak jadi beban buat orang yang lagi kehilangan lo.
Belum ada akunnya.
Pang belum punya tim marketing, jadi belum ada yang ngurus sosial media. Kita lagi cari Marketing Director yang mau bangun ini dari nol bareng kita.
Tertarik? Kirim email →