Tanggal 26. Lo buka m-banking, liat angka, terus otak lo nanya, "lho, kok segini?" Bukan "kok abis?"
Bedanya kedengeran sepele, tapi itu yang nentuin tanggal tua lo cuma capek atau beneran bikin panik. Yang pertama itu bingung. Yang kedua itu cuma capek. Tanggal tua yang jahat adalah yang bikin lo bingung.
Yang nyakitin bukan jumlahnya
Tanggal tua kerasa lebih parah dari yang seharusnya, bukan karena angkanya kecil, tapi karena nggak ada yang bisa dijelasin. Lo bukan takut miskin. Lo takut nggak ngerti diri sendiri.
Dan itu nggak ilang pas gaji naik, cuma pindah kelas. Yang gajinya 5 juta kaget di tanggal 25. Yang gajinya 15 juta kaget di tanggal 28. Ambang paniknya bukan saldo kecil, tapi saldo kecil yang nggak ada ceritanya. Yang beda cuma tanggalnya, bukan perasaannya.
Momen paling jujur gue
Gue pernah punya satu bulan di mana gue yakin banget nggak boros. Nggak ada belanja gede, nggak ada plesiran, nggak ada yang keliatan aneh. Tapi angkanya bilang lain.
Pas gue paksa runut satu-satu, ternyata bukan satu pengeluaran gede yang nguras. Dua puluh pengeluaran kecil, dan nggak ada satu pun yang gue inget.
Itu lebih bikin malu daripada beli barang mahal. Mahal setidaknya ada barangnya.
Kopi di sini, parkir di situ, jajanin adek, patungan kado kantor. Satu-satu nggak ada yang salah. Digabung, jadi angka yang bikin lo curiga sama diri sendiri, padahal yang salah cuma satu: nggak ada yang nyatet.
Tanggal tua nggak akan ilang. Dan itu nggak apa-apa.
Yang bisa berubah cuma satu: dari ambush jadi bukan ambush. Dari "lho, kok segini?" jadi "oh iya, ini dari situ."
Duit yang punya cerita nggak bikin panik, walaupun angkanya sama persis. Bukan biar lo berhenti belanja. Biar tanggal 26 berhenti jadi kejutan.