Meja makan, bon dateng, ada jeda dua detik yang canggung. Terus lo denger diri lo sendiri ngomong, "yaudah, gue aja." Sebelum otak lo sempet ngitung.
Bukan karena lo lagi banyak duit. Justru sering pas lagi mepet. Tapi tangan udah keluarin dompet duluan, sebelum logika sempet nyusul.
Dua jenis traktir, dompet yang sama
Ada traktir yang lahir dari lega. Lagi ada rejeki, seneng bisa bagi, dan nraktir itu beneran nambah, bukan ngurangin. Terus ada traktir yang lahir dari takut. Takut keliatan pelit, takut posisi lo di circle turun kalau kali ini lo yang diem aja. Dompetnya sama-sama keluar duit. Rasanya beda banget.
Utang yang nggak pernah nagih
"Gue aja yang bayar" gampang jadi utang tak terlihat. Nggak masuk catatan, nggak ada yang nagih. Tapi numpuk. Dan yang paling berat bukan angkanya.
Yang paling berat itu kenyataan bahwa lo nggak pernah ngaku ke diri sendiri kalau lo lagi nggak sanggup.
Karena ngaku itu berarti ngakuin posisi lo nggak seaman yang lo pengen orang liat. Jadi lo bayar aja, biar nggak ada yang nanya.
Boleh traktir, asal jujur dulu
Lo boleh kok traktir. Traktir yang tulus itu salah satu hal paling indah yang bisa lo kasih ke orang. Tapi traktir dari tempat yang jujur, bukan dari tempat yang takut.
Kadang "gantian ya, kali ini lo dulu" itu bentuk sayang yang lebih dewasa daripada selalu maksa bayar. Dan itu nggak bikin lo keliatan pelit. Itu bikin lo keliatan jujur.
Belum ada akunnya.
Pang belum punya tim marketing, jadi belum ada yang ngurus sosial media. Kita lagi cari Marketing Director yang mau bangun ini dari nol bareng kita.
Tertarik? Kirim email →